Belum Ditemukan tapi Risiko Monkeypox Masuk di Indonesia Tetap Ada

Sejauh ini penularan Monkeypox diketahui melalui cairan lesi yang muncul di dalam tubuh. Kemudian terjadi kontak langsung antara mereka yang terinfeksi dengan orang lain. Menurut Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman, potensi penularan tidak seperti Covid 19.

Tapi ketika cairan lesi dari luka si pasien menempel pada seprai atau baju, ada mekanisme yang tidak boleh diabaikan. Ia pun selalu mengingatkan setiap wabah yang ketika terjadi di satu belahan dunia, maka kurang dari 4 hari atau seminggu bisa menyebar keujung dunia lain. Hal ini dikarenakan era globalisasi atau arus mobilitas interaksi manusia yang luar biasa cepat. Sehingga membuat potensi penyebaran Mongkeypox menjadi sangat besar.

Ditambah adanya fakta bahwa Monkeypox memiliki masa inkubasi yang panjang. Yaitu bisa dalam waktu tiga minggu. Artinya, potensi masuk ke negara lain termasuk Indonesia makin besar. Karena masa inkubasi yang panjang itu membuat orang yang masuk bepergian ke sana sini tidak terdeteksi. Disebabkan belum muncul gejala atau terlihat lesi di tubuhnya. "Relatif banyak dan cepat penyebarannya. Jadi, bahwa dia ada di Indonesia, sekali lagi saya sampaikan potensinya jelas ada. Apa lagi sudah dari awal Januari bahkan. Di Amerika sendiri sebetulnya sudah lebih awal dideteksi," kata Dicky lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.